Petik Laba Puluhan Juta dengan Budidaya Alpukat Mentega

Rabu, 28 Desember 2011

Alpukat sangat pas dijadikan campuran es buah. Apalagi, buah ini mempunyai manfaat bagi kesehatan, yakni sebagai pengencang kulit. Dengan keunggulan cepat berbuah, potensi budidaya alpukat mentega miki cukup menggiurkan.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki bermacam jenis buah-buahan. Alpukat, misalnya. Buah ini cukup punya nama, baik di dalam maupun luar negeri, baik sebagai bahan baku minuman segar maupun produk kosmetik.

Walau memiliki kadar asam lemak jenuh rendah, alpukat sejatinya mempunyai kadar lemak dan kalori tinggi. Buah ini juga mengandung vitamin A, C, B kompleks, E, dan D. Kandungan paling banyak yang terdapat di buah adalah vitamin A.


Banyak varian alpukat di Indonesia. Varietas terbaru: alpukat mentega miki. Dinamakan alpukat mentega karena warna dagingnya kuning seperti mentega. Bentuknya juga sedikit berbeda dengan alpukat umumnya. Lebih bulat hampir menyerupai bola, beda dengan alpukat biasa yang lonjong.

Dibandingkan dengan alpukat biasa, jenis mentega miki memiliki keunggulan. Yakni, bisa berbuah di usia muda, 3 hingga 4 tahun. Tanaman alpukat biasa butuh waktu sampai 10 tahun untuk berbuah.

Alpukat mentega miki juga tidak disukai hama ulat lantaran memiliki kandungan enzim yang mematikan bagi binatang ini. Selain itu, daging buahnya juga tebal dan tidak berserat.

Yunus Junaedi, pembudidaya alpukat mentega miki di Depok, Jawa Barat, mengatakan, keunggulan lain, pembudidaya alpukat mentega miki masih jarang. "Baik bisnis buah maupun bibitnya masih bagus," katanya. Saat pertama kali menjalankan usaha ini awal 2009, ia bisa menjual hingga 10.000 bibit alpukat mentega miki per tahun.

Setelah setahun, permintaan melonjak mencapai sekitar 20.000 pohon. Dengan harga jual Rp 50.000 per bibit, Yunus bisa mendapatkan omzet sebanyak Rp 45 juta hingga Rp 50 juta per bulan. "Target kami tahun ini bisa menjual hingga 30.000 bibit," tegasnya.

Tak hanya perseorangan saja yang membeli bibit dari Yunus, namun juga pengusaha maupun pemerintah daerah. Yunus memasarkan bibit alpukat mentega mikinya hingga ke Pulau Sumatra dan Sulawesi.

Nur Supriyanto, pembudidaya alpukat mentega miki di Salatiga, Jawa Tengah, menjelaskan, alpukat jenis ini banyak dicari karena dagingnya lebih tebal dan cepat tumbuh. "Umur bibit tiga bulan sudah bisa dijual," ujar dia.

Nur melego bibit alpukat mentega miki dengan harga Rp 40.000 per bibit. Dari penjualan itu, ia berhasil memperoleh omzet hingga Rp 35 juta tiap bulan. Menurutnya, alpukat jenis ini bisa menghasilkan buah yang banyak. Sebulan, satu pohon bisa memproduksi 100 hingga 500 buah.

Selain bibit, Nur juga menjual buah dalam paket grade super 1 kilogram (kg) berisi dua-tiga buah seharga Rp 8.000 per kg. Grade campur isi empat-lima biji per kg seharga Rp 6.000 dan grade kecil dengan Rp 4.000 per kg. Selain dipasarkan ke Jakarta, Nur menjual bibit dan buah alpukat ke Pekanbaru, Medan hingga Pontianak. "Saya yakin ke depan bisnis ini masih menjanjikan," kata dia optimistis. Sebab, komoditas hortikultura Indonesia tersebut juga banyak peminat di negara lain.

Oleh karena itu, tahun ini, Nur mulai mencari peluang untuk dapat memasarkan alpukat mentega miki hasil budidayanya ke mancanegara. Sebagai langkah awal, ia berencana membidik pasar di benua Asia dulu, seperti Jepang dan China. Untuk bisa tumbuh secara maksimal, alpukat mentega miki sebaiknya ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian maksimal 1.500 meter di atas permukaan laut. Saat berumur muda, tanaman harus dipupuk dengan dedaunan.

Umur tanam hingga berbuah yang pendek, menjadikan alpukat mentega miki banyak diincar oleh pembudidaya. Untuk berbuah, alpukat jenis ini hanya membutuhkan waktu tanam sekitar tiga-empat tahun, bandingkan dengan alpukat biasa yang memerlukan 10 tahun. Keunggulan lain, seperti tahan terhadap serangan ulat dan daging buah yang tebal tanpa serat membuat alpukat mentega miki makin menarik.

Alpukat mentega miki dapat tumbuh di dataran rendah. Agar bisa tumbuh dengan baik, daerah tanam sebaiknya memiliki suhu antara 15 hingga 30 derajat Celcius dengan curah hujan 5 sampai 6 bulan basah. Hanya saja, lokasi paling bagus, ya di dataran tinggi dengan ketinggian maksimal 1.500 meter di atas permukaan laut.

Alpukat mentega miki juga bisa tumbuh di daerah tropis maupun subtropis, termasuk di tanah remah atau lempung berpasir. Dengan kondisi itu, alpukat mentega miki tidak membutuhkan intensitas cahaya tertentu. "Ini yang membuat budidaya alpukat mentega miki lebih mudah," ujar Nur Supriyanto, pembudidaya alpukat mentega miki di Salatiga, Jawa Tengah.

Untuk mendapatkan bibit alpukat mentega miki, dapat dengan cara okulasi. Ini merupakan cara terbaik untuk memperoleh bibit dengan sifat induk yang tidak berubah.

Yunus Junaedi, pembudidaya alpukat mentega miki di Depok, Jawa Barat menjelaskan, proses okulasi atau sambung pucuk dengan menyambung alpukat mentega miki ke tunas dari biji jenis alpukat lain. Penyambungan dilakukan saat tunas berusia dua bulan atau tinggi sekitar 60 cm. "Selain menanam sendiri, tunas jenis lain bisa mudah didapatkan dengan membeli," kata Yunus.

Bunga alpukat mentega miki tumbuh pada ujung ranting dengan bentuk malai berjenis kelamin dua. Biasanya terjadi di bulan April-Agustus dan Oktober-November. Sedangkan, penyerbukan banyak terjadi dengan bantuan lebah. "Alpukat berbuah dari bulan Desember- Februari dan Mei-Juli," ujar Nur.

Saat berumur muda, tanaman alpukat mentega miki sebaiknya dipupuk dengan daun-daunan yang berguguran. Soalnya, saat masih muda, tanaman alpukat jenis ini lebih banyak memerlukan fosfat dan kalium. Kalau sudah tua, lebih memerlukan nitrogen dan kalium.

Pohon alpukat rentan terhadap hama dan penyakit termasuk ulat yang menggerogoti daun sampai ludes. Namun, setelah itu, pohon akan berbunga. Selain ulat, hama lain yang menyerang pohon alpukat adalah, helopeltis yang menghisap pucuk daun hingga kering. Tetapi, "Pohon alpukat mentega miki memiliki keunggulan karena lebih tahan hama penyakit," ujar Yunus.

Alpukat mentega miki tahan terhadap hama lantaran memiliki enzim anti-hama. Karena itu, pohon alpukat mentega miki bisa juga ditanam di pekarangan rumah.

Yunus menyarankan, agar tidak bonyok sewaktu proses pengiriman ke pasar tradisional, sebaiknya alpukat di-packing dengan menggunakan peti kayu yang didalamnya dilapisi karton.
Tiap peti berisi 50-80 kg. Sementara, untuk pengiriman ke pasar swalayan, dikemas dengan menggunakan kardus dan ditata sehingga tidak saling tumpang tindih. 

sumber : www.kontan.co.id

0 komentar: