Kementan Bantah Batasi Kuota Impor Buah

Selasa, 05 Maret 2013 0 komentar
Headline

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pertanian berdalih tidak ada larangan maupun pembatasan impor khususnya pada kuota impor buah. Meski demikian, Kementan akan meninjau kembali Pertanian Nomor 3 pasal 2 ayat 2 huruf e mengenai syarat gudang penyimpanan bagi para importir.
Hal itu ditegaskan Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian, Haryono. Ia menegaskan Kementan tidak melakukan pembatasan, melainkan pengaturan mengenai impor buah untuk melindungi petani buah dalam negeri.

Karena banyaknya protes atas Permen Pertanian Nomor 3 pasal 2 ayat 2 huruf e mengenai syarat gudang penyimpanan bagi para importir, Kementan akan meninjau kembali peraturan menteri pertanian itu.

Jika nantinya memang terjadi ketidakadilan antara importir bermodal besar dengan importir bermodal kecil, lanjut Haryono, Kementan akan segera merevisi Permen Pertanian itu.
Baca selengkapnya »

Harga Buah Impor Melonjak, Produk Lokal Harus Didorong

0 komentar
Pedagang buah menunggu pembeli di Pasar Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah, (28/1/2013). Dalam satu bulan ini buah lokal mendominasi pasar setelah pasokan buah impor mulai terbatas dengan harga dua kali lipat lebih tinggi di pasar.

 JAKARTA, KOMPAS.com  - Pemerintah perlu mendorong petani buah lokal. Hal ini dilakukan untuk menggantikan buah impor yang makin dibatasi. 

Murthando, pedagang buah impor di kawasan Kebon Kacang, Jakarta, yang ditemui Sabtu (16/2/2013), mengatakan, pemerintah perlu memberdayakan petani buah lokal sehingga mencapai swasembada. 

”Petani perlu memperbaiki kualitas buah, jumlah pasokan, dan standar harga yang jelas,” ujar pria yang sudah berjualan buah selama 25 tahun itu. 

Hal itu diungkapkan menyusul harga buah impor di beberapa pasar dan gudang buah di Jakarta mengalami peningkatan dua kali lipat. 

Susanto, pedagang buah lokal yang sudah 13 tahun berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengungkapkan, pada tahun lalu dia berhenti menjual buah impor karena harganya naik hingga 100 persen. 

”Saya tidak sanggup lagi menjual buah impor karena tak punya modal. Bayangkan saja anggur impor dari Amerika Serikat yang dulu saya beli 8 kilogram di gudang buah di Ancol seharga Rp 250.000 sekarang sudah naik hingga Rp 550.000,” tutur pria asal Jepara itu. 

Hal yang sama disampaikan oleh Fadlin Mudin, penjual buah impor di Blok S Pasar Senen, Jakarta Pusat. Menurut dia, harga buah lokal seperti salak, melon, alpukat, sirsak, dan jambu masih stabil dengan kenaikan hanya mencapai Rp 1.000. Namun, berbeda jauh dengan harga buah impor yang naik 50-100 persen. 

”Anggur washington menjadi salah satu buah impor yang harganya melonjak dua kali lipat, dari Rp 40.000 per kilogram menjadi Rp 80.000 per kilogram,” tutur Fadlin. 

”Akibat lonjakan biaya yang ditetapkan oleh para importir buah, saya pun terpaksa harus menaikkan harga jual yang tentu akan dikesalkan oleh para pelanggan saya,” ungkap Murthando. 

Ayung, pemilik gudang buah di wilayah Sunter, Jakarta Utara, yang mengimpor buah dari sembilan negara di kawasan Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika, menuturkan, dia terpaksa menaikkan harga karena harga bea masuk buah impor juga tinggi. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi ketika dihubungi menjelaskan, sampai saat ini pihaknya belum menerima rekomendasi impor produk hortikultura dari Kementerian Pertanian.
Baca selengkapnya »

Inilah Penyebab Harga Buah Lokal Tidak Kompetitif

0 komentar
Headline

INILAH.COM, Jakarta - Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengaku miris ketika harga komoditas buah jeruk Mandarin jauh lebih murah dibanding jeruk lokal.

Menurut catatannya, jeruk Medan dijual dengan harga Rp20 ribu per kilo gram, sementara jeruk Mandirin hanya dijual Rp17 ribu per kg. "Jeruk Medan sama jeruk Mandarin lebih murah mana? Ya lebih murah yang dari Mandirin," katanya dalam Seminar Ekonomi Pancasila Sebagai Alternatif Sistem Ekonomi Indonesia di Jakarta, Sabtu (23/2/2013).

Faisal mengemukakan, buruknya infrastruktur konektivitas sebagai penyebab mahalnya harga jeruk Medan. Adapun, jeruk Mandarin dapat diangkut dengan kapal melalui jalur perairan dari negara asalnya dengan biaya yang jauh lebih efisien.

"Jeruk Medan dibawanya ruwet, jalannya rusak, masuk ke Pelabuhan Merak Bakauheni macet. Kalau jeruk Mandarin pakai kapal 30 ribu dwt," tutur dia.

Untuk mengatasi tingginya biaya logistik di Indonesia, dia meminta pemerintah lebih mengembangkan transportasi perairan. Pasalnya, sebagian besar wilayah Indonesia adalah kelautan.

Dia mengkritik kebijakan pemerintah yang terlalu berorientasi ke daratan, misalnya keinginan pemerintah membangun jembatan Selat Sunda. Padahal, transportasi perairan bisa lebih efisien. "Allah menganugerahi negeri ini jalan bebas hambatan yang namanya laut tapi kita malah mau bangun jembatan Selat Sunda, kan biadab," ujarnya.
Baca selengkapnya »

Kenaikan Harga Produk Hortikultura Mencekik Leher

0 komentar


JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga produk hortikultura seperti bawang, tomat dan buah-buahan sungguh mencekik leher. Seperti yang dipaparkan Yuyun salah satu pedagang yang ditemui Kompas di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, Senin  (4/3/2013),  hingga saat ini harga bawang masih mengalami lonjakan harga yang mencapai 50-100 persen.

Berdasarkan pengakuan Yuyun, harga bawang putih kating masih tinggi yakni Rp 40.000 perkilogram, bawang merah seharga Rp 26.000 perkilogram, dan bawang Bombay Rp 28.000. Sedangkan harga tomat juga naik drastis dari Rp 7.000 sampai Rp 15.000 perkilogram.

"Harga produk impor semua mengalami kenaikan drastis. Namun kami tetap membeli produk dari luar seperti bawang putih kating dan bombay, karena belum ada pasokan yang cukup di dalam negeri," papar Yuyun 

Murni salah pedagang buah menjelaskan bahwa harga buah anggur dan apel impor belum mengalami penurunan sama sekali. rata-rata buah impor dari Amerika Serikat dan China mengalami kenaikan hingga 100 persen. Misalnya buah anggur Amerika yang biasanya dijual perkilogram Rp 45.000, saat ini melonjak hingga Rp 90.000.

Namun di tengah kenaikan harga buah impor yang tinggi, tidak mempengaruhi harga jual buah lokal. Jeruk Medan yang biasanya Rp 15.000 naik hingga Rp 25.000 perkilogram, duku Palembang naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 20.000 perkilogram dan salak pondoh dari Yogyakarta dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 15.000 perkilogram.

"Harga buah lokal juga mengalami kenaikan karena terhambat oleh masalah cuaca. Sehingga mengakibatkan pasokan buah lokal mengalami kekurangan," jelas Murni.
Baca selengkapnya »

Ini Penyebab Harga Buah Mahal

0 komentar
 

 REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan inflasi pada Februari 2013 sebesar 0,75 persen. Kepala BPS Suryamin menjelaskan,  salah satu penyebab tingginya inflasi yakni pembatasan impor produk hortikultura.

Salah satunya adalah buah-buahan impor yang mulai dibatasi. Pembatasan tersebut membuat harga komoditas itu mengalami kenaikan harga. Ke depan, kata dia produksi buah lokal perlu digenjot untuk mencegah kenaikan harga.

Harga buah-buahan memang terus naik. Di Pasar Minggu, Jakarta, harga Jeruk Medan mencapai Rp 20 ribu. Begitu pun harga buah impor seperti Anggur Merah yang bisa mencapai Rp 60 ribu.

“Memang ada shock pada saat dibatasi ada peningkatan harga karena suplay dalam negeri masih menyesuaikan,” ujar Suryamin, Jumat (1/3), saat jumpa pers.

Suryamin mengtaakan di bulan-bulan mendatang, diharapkan pemerintah bisa mengupayakan untuk memperbanyak stok guna  menyesuaikan suplay dengan kenaikan harga ini. Pemerintah, kata dia harus mengontrol perkembangan harga kebutuhhan pokok yang menjadi penyebab inflasi.

Dari 66 kota yang dipantau tingkat infasinya, 60 kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 3,15 persen dan Loksmaway 1,78 persen. Sementara, enam kota mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Ambon dan Maumere sebesar 2,29 dan 0,92 persen.
Baca selengkapnya »

Pertanian Organik Jogja: Alternatif Raih Ketahanan Pangan dan Ramah Lingkungan

Senin, 03 Desember 2012 0 komentar
 


Pertanian Organik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini terus berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat dan ramah lingkungan. Hal ini didukung permintaan pasar yang semakin bertambah, serta nilai jual produk yang lebih tinggi . Sayangnya, saat ini luas lahan yang digunakan untuk pertanian organik di DIY masih dibawah 3% dari 57.540 hektar luas tanah pertanian yang ada.

Salah satu perusahaan yang mengelola restoran cepat saji terkenal di Indonesia yang setahun terakhir menggunakan beras organik, dari 370 gerai, 117 gerai di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta memanfaatkan beras organik. Perusahaan ini menggunakan beras organik karena konsumen sekarang lebih melek kesehatan, kata salah seorang brand manager perusahaan tersebut. Pada sebuah gerai yang menyajikan nasi organik dan nonorganik, 80% konsumen memilih nasi organik.

Pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang memanfaatkan bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian, seperti limbah produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk untuk mereduksi penggunaan pupuk, pestisida, fungisida dan insektisida kimia yang tidak ramah lingkungan.

Saat ini Dinas Pertanian DIY telah memiliki beberapa area pertanian organik. Untuk wilayah Kabupaten Kulon Progo di Desa Kali Bawang, Kabupaten Bantul di Desa Mangunan,  Kabupaten Gunung Kidul di Desa Pondang dan Kabupaten Sleman di Desa Prambanan dan Pakem.

Menurut Kepada Dinas Pertanian Provinsi DIY, Ir. Nanang Suwandi, MMA, tren permintaan terhadap produk pertanian organik terus mengalami peningkatan setiap tahun, namun petani di DIY belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Saat ini dinas pertanian DIY sedang mengupayakan target 5% lahan pertanian organik dari luas lahan pertanian yang ada pada tahun 2012.

Kendala utama mengembangkan pertanian organik karena lahan yang digunakan harus terkonsentrasi pada satu area yang jelas batasnya dan terpisah dengan pertanian konvensional. Hal ini untuk menekan terjadinya kontaminasi bahan-bahan kimia, baik dari air irigasi maupun udara. Kendala lainnya adalah hasil yang sedikit, akibat sudah rusaknya kondisi tanah di Indonesia akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia selama bertahun-tahun. Selain itu masalah pemasaran produk organik yang masih terbatas, membuat harga jualnya masih sangat tinggi di pasaran.

 
 Tabel Kebutuhan Padi Organik di Indonesia. Sumber: http://pertaniansehat.com/read/2012/05/28/tren-konsumen-beras-organik-meningkat.html

Sisi lainnya adalah belum dibentuknya Lembaga Sertifikasi yang memberikan jaminan terhadap segala produk pertanian organik untuk meningkatkan kepercayaan publik. “Oleh karena itu, untuk mengembangkan pertanian organik perlu ketelatenan, termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Lembaga sertifikasi akan kami bentuk, untuk mensertifikasi produk hasil pertanian organik,” ungkap Nanang pada Mongabay Indonesia.
Pentingnya pertanian organik pernah dibahas oleh ahli pertanian Amerika Serikat Laurie Drinkwater ahli manajemen tanah dan ekologi Rodale Institute di Kutztown, Pennsylvania. Dia yakin pertanian organik adalah cara baru mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Hasil yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature bulan Desember 1998 mengatakan, jika pupuk organik digunakan dalam kawasan pertanian kedelai utama di AS, setiap tahun, karbon dioksida di atmosfer dapat berkurang 1% hingga 2 %.

Selain itu, Drinkwater dalam penelitiannya juga menemukan, pertanian organik menggunakan energi 50% lebih kecil dibandingkan dengan metode pertanian konvensional. Artinya, pelaku sistem pertanian organik tidak merusak keberlanjutan komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme, dan tentunya manusia.

 “Ke depan dinas pertaninan DIY akan terus mendukung dan meningkatkan kebijakan untuk mengembangkan pertanian organik ini, melihat pangsa pasarnya, selain untuk hidup yang sehat juga kesuburan lingkungan,” sambung Nanang.


Sumber : http://www.mongabay.co.id/2012/07/30/pertanian-organik-jogja-alternatif-raih-ketahanan-pangan-dan-ramah-lingkungan-bagian-i/#ixzz2DwvYLeCb
Baca selengkapnya »